Pengabdian Tak Henti Jusuf Kalla
Senin, 20 Oktober 2014

Saat dilantik sebagai Wakil Presiden RI 2014-2019, Senin (20/10), M Jusuf Kalla berumur 72 tahun 5 bulan 8 hari. Pada akhir pemerintahan lima tahun mendatang, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942, itu berusia 77 tahun 5 bulan 8 hari.

Dengan usia yang tergolong tua serta banyak jabatan dan profesi yang pernah disandangnya—mulai dari pengusaha, anggota MPR, menteri dan Wapres RI 2004-2009, hingga Ketua Umum Palang Merah Indonesia dan Dewan Masjid Indonesia—tentu muncul pertanyaan.

Untuk mengetahui lebih jauh apa yang jadi keinginan dan harapannya sebagai Wapres RI, Kompas mewawancarai Pak JK di kediamannya, di Jakarta, Kamis (16/10). Dalam suasana santai, diselingi kedatangan cucunya yang baru pulang sekolah, JK menjawab sejumlah pertanyaan.

Pak JK ini boleh dibilang sudah dapat segalanya dari nama, jabatan, dan kehormatan. Apalagi usia bapak sudah cukup tua. Apa yang dicari dan diharapkan sebagai Wapres?

Jawaban ini mungkin dinilai alasan saja, tetapi ini perlu disampaikan. Dari sisi usia, saya memang harus istirahat, pensiun dan menikmati hari tua bersama cucu. Namun, karena situasi politik dan banyak yang meminta saya karena calon-calon pemimpin yang maju, seperti si A, B, dan C, dinilai belum pengalaman, saya pun diminta. Apakah Indonesia bisa dipimpin orang-orang yang belum berpengalaman seperti itu? Jawabannya, bisa saja. Namun, negeri ini terlalu besar dan ada banyak masalah.

Ada lobi-lobi, Pak JK?

Saya tak berusaha untuk melobi agar jadi karena saya sudah pernah jadi wapres. Ada yang bilang saya dekat dengan Ibu Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum PDI-P) dan minta. Tidak. Enam bulan saya tak pernah bertemu. Saya hanya bertemu waktu Jokowi mau jadi calon gubernur DKI. Saya juga tak pernah bertemu Jokowi kecuali waktu mau pemilihan dan setelah terpilih. Mungkin sekarang ini kami saling butuh.

Bagaimana kondisi ekonomi pada periode kedua ini dan peluangnya?

Kondisi sekarang beda dan ada persamaannya dengan 2004. Sekarang, ekonomi dari bawah ke atas, kebalikannya. Waktu itu, pertumbuhan cuma 4 persen, kemudian tumbuh 7 persen. Sekarang terbalik, turun sampai 5 persen karena tidak jalannya stimulasi pemerintah selain faktor ekonomi di luar negeri. Kita harus angkat lagi dan tahun depan diharapkan bisa 6 persen. Saya yakin bersama Pak Jokowi kita kembali tumbuhkan ekonomi dengan membangun infrastruktur dan lainnya.

Apa yang dikerjakan dalam waktu 100 hari ke depan?

Sebelum 100 hari, kami segera perbaiki anggaran dengan ubah defisit negatif jadi positif. Selain perbaiki stimulus pembangunan, juga perbaikan politik dan ekonomi. Kebijakannya harus lebih cepat. Selama ini kelemahan dibiarkan, subsidi yang konsumtif harus diubah produktif, ekspor- impor ditingkatkan. Harga BBM naik itu hanya akibat perbaikan subsidi. Kita harus efisien dan turunkan overhead.

Namun, bagaimana dominasi partai politik lawan di DPR?

Ini sistem presidensial dan bukan parlementer meski partai pemerintah kecil. Bukan berarti pemerintah akan digoyang dan jatuh, tidak. Sebab, koalisi juga bisa berubah setiap saat dan tidak ada koalisi yang permanen. Tahun depan saja sudah berubah lagi.

Jadi, Pak JK akan turun langsung setelah dilantik?

Pemerintah itu bisa lobi karena pemerintah punya daya tawar dan bisa negosiasi. Prinsip kerja DPR itu begini: penyusunan anggaran, setelah direvisi Mahkamah Konstitusi, DPR tak lagi bahas sampai Satuan 3 (proyek- proyek). Ini kembali ke pemerintah sehingga peran pemerintah kuat. Soal pengawasan, kalau pemerintah diawasi 24 jam, pemerintah amat senang dan tak akan melanggar.

Dalam bekerja nanti ada pembagian tugas?

UUD 1945 mengatur Presiden dibantu seorang Wapres. Tidak ada penjelasan lagi terkait soal itu. Kita ikuti. Negeri ini terlalu besar untuk kita bekerja sendiri-sendiri. Dibutuhkan kebersamaan yang kuat. Bahwa suatu saat ada masalah, tentu itu yang harus diselesaikan.

Karena Pak JK bekerja cepat, apakah ada pembagian tugas?

Sejauh ini tidak ada. Dan, tidak dibicarakan. Namun, praktiknya nanti, akan selalu dibicarakan jika ada masalah-masalah. Kalau saya bekerja cepat, Pak Jokowi pun kerja cepat.

Bagaimana sosok kabinet dari koalisi tanpa syarat itu?

Menteri harus mampu, punya kemampuan, integritas, juga leadership dan komunikasi. Sebelum prasyarat, kan, ada pra, artinya waktu berkoalisi tak ada syarat. Namun, setelah menang dan susun pemerintah, semuanya harus berperan dan berpartisipasi. Namun, hitungannya harus ada, jumlah kursi di DPR, dan sejauh mana peranan saat kampanye dan kader-kadernya.

Bisa muncul kesan orangnya Jokowi, JK, Megawati, Surya Paloh?

Saya kira tak ada. Meskipun mereka diusulkan oleh partai, mereka akan jadi profesional. Demikian juga yang profesional murni karena atas dasar keahlian dan pilihan masyarakat. Pembagiannya tetap 16 profesional murni dan 18 profesional usulan partai.

Pemberantasan korupsinya seperti apa?

Ada dua syarat yang harus dipenuhi. Orangnya harus baik dan pengawasannya. Dulu ada pakta integritas yang harus diteken para calon. Apakah dengan selembar atau dua lembar kertas kita bisa jamin orang bersih atau tidak? Memang ada gunanya untuk meyakinkan, tetapi tidak memberikan jaminan.

Banyak yang tanya latar belakang Pak JK pengusaha?

Usaha itu merupakan bagian pekerjaan seseorang, termasuk kalau dia pengusaha. Tak ada dasar untuk menolak pengusaha jadi pejabat. Asalkan jabatannya itu tidak untuk kepentingannya. Saya sudah tak lagi jadi pengusaha serta sudah saya lepas dan dijalankan anak dan adik-adik sejak 2004. Bisa saja ikut tender, asal ikut aturan.

Bagaimana dengan sukarelawan?

Kami berterima kasih kepada sukarelawan. Namun, setelah 20 Oktober, Jokowi-JK adalah Presiden-Wakil Presiden untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk 70 juta orang yang pilih Jokowi-JK. Sukarelawan sebaiknya bekerja kembali seperti biasa.

Di usia yang sekarang 72 tahun dan lima tahun lagi jadi 77 tahun, apakah Pak JK masih ingin melanjutkan periode ketiga?

Sejak awal, saya sudah sampaikan bahwa ini pengabdian saya yang terakhir kali dalam pengertian jabatan. Kalau umur panjang, saya tak lagi formal, mungkin mengajar atau hanya memberikan saran-saran.