Menanti Fed, Bursa Asia Menguat
Rabu, 17 Desember 2014

JAKARTA, KOMPAS

Setelah tertekan beberapa hari terakhir, bursa saham di kawasan Asia kembali menggeliat pada awal perdagangan, Rabu (17 Desember 2014).

Walaupun harga minyak jatuh dan menyebabkan penurunan di pasar saham, The Fed sudah mengantongi data perekonomian AS yang solid dan memiliki bukti bahwa perekonomian telah kembali pada jalurnya. Pasar tenaga kerja kembali bangkit tahun ini. Pertumbuhannya tertinggi sejak tahun 1999.

Akan tetapi, pada saat yang sama, The Fed juga sudah berulang kali tidak mampu mencapai target inflasinya. Federal Open Market Committee (FOMC) akan menyampaikan hasil pertemuan dua harinya, besok waktu setempat.

Hal ini membuat bank sentral berada dalam posisi sulit, kata chief investment strategist pada Charles Schwab, Liz Ann Sonders. ”Bahkan, tanpa penurunan harga minyak, inflasi sudah berada di bawah target mereka, tetapi mereka memiliki data tenaga kerja. Indikator utama memberikan tanda bahwa The Fed perlu mengambil langkah maju,” katanya.

Bulan Oktober lalu, The Fed sudah menyelesaikan program pembelian obligasi jangka panjang untuk menjaga supaya tingkat suku bunga tetap rendah sehingga perekonomian dapat tumbuh. Setelah mengakhiri program stimulus ini, bank sentral akan memangkas tingkat suku bunga.

Dengan data inflasi dan tenaga kerja yang akan menjadi penentu langkah bank sentral AS, The Fed akan sedikit kesulitan. ”Bank sentral AS sangat unik, karena mendapatkan kedua mandat itu. Di satu sisi, mandat itu mengatakan bahwa The Fed harus bergegas melangkah dan satu mandat lagi mengatakan bahwa mereka harus bersabar. Akan sangat menarik memperhatikan hal ini,” ujar Sonders.

Ia memperkirakan, Fed menaikkan tingkat suku bunga pada pertengahan tahun depan, mungkin pada pertemuan FOMC, Juni 2015. Pertemuan pada bulan Juni dijadwalkan dilengkapi jumpa pers sehingga merupakan kesempatan bagi Gubernur The Fed Janet Yellen untuk menjelaskan keputusan The Fed.

Indeks MSCI yang menjadi pengukur kinerja indeks saham di kawasan Asia Pasifik naik 0,2 persen di awal perdagangan. Indeks Topix naik 0,1 persen, Kospi naik 0,2 persen, dan indeks Australia naik 0,5 persen setelah selama lima hari terakhir mengakhiri hari dengan pelemahan.

Penguatan di kawasan Asia berimbas ke Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan mencoba bangkit. Pagi-pagi, indeks menguat 0,32 persen atau 16 poin menjadi 5.042.

Pada penutupan kemarin, IHSG melemah -82 poin atau 1,61 persen menjadi ke 5.026. Investor membukukan transaksi sebesar Rp 7,51 triliun. Investor asing membukukan transaksi jual bersih di pasar reguler sebesar
Rp 1,59 triliun.

Analis teknikal Bahana Sekuritas memperkirakan, pada hari ini indeks bergerak pada kisaran 5.000-5.075. IHSG turun di bawah rata-rata harian selama 50 hari (MA50). Indikator-indikator teknikal seperti Stochastic, RSI, dan MACD negatif.

Sementara itu, kurs rupiah menguat. Menurut data Jisdor Bank Indonesia, nilai tukar rupiah menguat, yakni dari Rp 12.900 menjadi Rp 12.700 per dollar AS. Analis valuta asing dari ANZ Khoon Goh menurunkan perkiraan nilai tukar rupiah menjadi Rp 12.800 pada akhir tahun 2014.

Minyak makin menekan

Penurunan harga minyak yang terlalu dalam juga tidak selamanya baik. Indeks saham di Wall Street hanya mampu membukukan sedikit kenaikan di tengah perdagangan yang bergejolak. Pada akhir sesi perdagangan, indeks dapat naik tipis setelah saham- saham energi naik dan investor menduga The Fed akan lebih berhati-hati dalam bertindak mengingat saat ini perekonomian global sedang rentan.

Dua indeks utama ditutup menguat pada dini hari tadi. Saham pada sektor konsumer menarik indeks S&P paling tajam penurunannya. Saham Amazon turun 2,5 persen. Pada perdagangan yang berakhir dini hari tadi, indeks S&P naik 40 poin. Indeks sektor energi S&P naik 1,6 persen dan menjadi penopang pergerakan indeks. S&P sudah turun 15,6 persen pada tahun ini setelah ada penurunan harga minyak pada bulan Juni lalu.

”Ada banyak saham khususnya di sektor energi yang diperdagangkan pada harga yang aneh dibandingkan dengan valuasi harga wajarnya di pasar,” kata Paul Mendelsohn, chief investment strategist pada Windham Financial Services di Charlotte, Vermont, AS. (Reuters/Joice Tauris Santi)